Suasana salah satu TPU di Jakarta yang kini sudah padat. Baris demi baris makam berdiri rapat, hampir tanpa ruang kosong di antara pepohonan kota yang menjulang. Inilah potret nyata Jakarta hari ini kota besar dengan lahan pemakaman yang semakin terbatas. Menurut data resmi, 69 dari 80 TPU di Jakarta telah penuh.
Artinya, mencari lahan makam yang layak bukan lagi sekadar rencana, tetapi menjadi tantangan nyata bagi setiap keluarga yang menghadapi kedukaan. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan gedung-gedung tinggi, TPU justru semakin terdesak. Ruang untuk tempat peristirahatan yang tenang semakin sulit ditemukan, dan tidak sedikit keluarga terpaksa menerima lokasi yang tidak sesuai harapan karena keterbatasan tempat. Seseorang secara alami akan bertanya dalam hati:
Jika lahan makam di kota semakin penuh, nanti keluarga saya harus dimakamkan di mana ?
Apakah ketika waktunya tiba, bisa memberi tempat terbaik untuk orang yang saya sayangi ?
Apakah ingin keluarga saya mengalami kesulitan mencari tempat peristirahatan ?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak muncul karena ketakutan, tetapi karena kesadaran alami manusia bahwa kematian adalah bagian kehidupan dan persiapan yang matang adalah bentuk cinta paling nyata kepada keluarga.
Banyak keluarga yang akhirnya menyadari,
bahwa saat kedukaan datang, mereka tidak lagi punya banyak waktu untuk memilih pasti menginginkan:
Lokasi yang bersih, rapi, dan layak.
Tempat yang mudah dikunjungi keluarga.
Ketenangan saat berziarah.
Penghormatan terakhir yang pantas untuk orang yang paling dicintai.
Tetapi kenyataannya, pilihan itu semakin sempit jika tidak dipersiapkan lebih awal. Mempersiapkan lahan makam hari ini bukan tentang mengundang kedukaan. Ini tentang mengurangi beban keluarga, memberikan jalan yang lebih ringan, dan memastikan tempat terbaik benar-benar tersedia ketika dibutuhkan.
Keputusan Kecil Hari Ini, Ketenangan Besar di Hari yang Akan Datang




